GANGSING KEMELARATAN


Gangsing Kemelaratan

Uswatun Hasanah




Bukan Sumi yang menyebabkan Mang Karto Gila. Bukan juga karena Sumi putus asa karena sampai umur 50 tahun belum juga menikah. Bukan juga karena adiknya hamil tanpa suami. Tapi mungkin Mang Karto memendam sebuah masalah yang membuat dia hilang ingatan.

Siang itu beberapa warga terlihat melawat ke rumah Mang karto, tak terlihat banyak ibu-ibu. Hanya ada bu Nyai dan beberapa santri saja yang melawat. Tak terlihat bapak-bapak warga di sekitar rumah Mang Karto selain pak Lurah, pak Ustad, Polisi, dan pak Lurah.
Beberapa ibu-ibu tampak mengintip dari jendela sambil menjadi pengikut Bu Tejo, berghibah dan menikmati asyiknya merangkai dosa-dosa, dan memperkirakan siapa sebenarnya bapak dari bayinya Sumi yang baru saja meninggal pagi tadi. Ya Sumi adalah adiknya Mang Karto. Mereka tinggal berdua sejak bapaknya  meninggal tergelincir di lori musim panen tebu. Kecelakaan sekecil itu mampu menjadi penyebab Bapaknya Sumi meninggal. Namun yang namanya gosip lebih asyik dibanding bertanya pada yang bersangkutan.  Beberapa orang berpendapat meninggalnya Mbah Darno karena mendengar kabar kalau istrinya yang jadi TKW sudah selingkuh (meski sebenarnya seiring berjalannya waktu berita itu tidak terbukiti).
Suara tangisan tak terdengar memenuhi bilik kecil itu. Hanya tampak peluh keringat dari Mang Karto dan beberapa santri pesantren Mustofa yang membantu menyiapkan semua. Dan satu jam kemudian semua sepi. Seperti biasa.
“Bayi Sumi meninggal. Bayi Sumi meninggal karena karena karma. Dia dihamili kakaknya sendiri, Mang Karto yang hilang ingatan, dirayu adiknya sendiri, Sumi yang perawan tua.” Berita itu cepat menyebar seperti berita banjir bandang di Sukabumi baru-baru ini. Setelah itu semua sunyi, seperti biasa seakan corona mengintip di setiap sudut.
___
Meninggalnya Mbah Darmo mengagetkan Mang Karto yang saat itu usianya sudah 25 tahun, sementara Sumi usia 19 Tahun. Tangisan Sumi membuat siapa saja yang menenangkan justru ikut terbawa suasana. Bagaimana tidak, Mbah darmo tulang punggung keluarga. Sejak istrinya jadi TKW, praktis Mbah Darmo yang menjadi penanggung kebutuhan hidup dirinya dan kedua anaknya. Sementara istrinya belum menerima gaji, kabarnya dipotong agen sampai 3 bulan. 
Setiap pagi setelah mendengar suara Adzan subuh, Mbah Darmo membawa arit pergi ke ladang tebu milik H Subakri sejauh 2 km. Di sana  ia membersihkan ladang, atau sekadar menjaga pengairan, agar jangan sampai direbut peladang lain. Aktivitasnya terus seperti itu dari subuh sampai pulang menjelang magrib. Namun entah mengapa, biasanya pulang dia akan berjalan di samping lori sampai ujung kampung, kali ini—kata warga yang sempat melihat—, ia berjalan di tengah rel lori tanpa menghiraukan suara panggilan warga yang mengingatkan kalau sebentar lagi ada reli membawa tebu hasil panen. Tampaknya Mbah Darmo sedang tidak konsentrasi. Tak lama kemudian terdengar teriakan khas orang yang sudah tua yang kesakitan.  Mbah Darmo tewas tertabrak kereta Reli.
___
Pak Lurah memberikan imbauan pada warga untuk berkumpul di balai desa tepat pukul 08.00 WIB. Ada hal penting yang harus diketahui selusuh warga, pria wanita, tua muda, maupun balita. 
“Bapak ibu, maaf mengganggu panjenengan semua pagi ini. Ada inpo yang akan saya sampaikan,” Pak Lurah dengan medoknya membuka kabar di Kelurahan.
Warga mulai gelisah, kalau BLT biasanya cuma perwakilan saja.
“Bapak ibu, yang punya tipi, pastinya sudah melihat dan mendengar berita bahwa di negara kita tercinta ini sedang dilanda wabah yang sangat berbahaya. Wabah itu Namanya corona. Penyakit ini bisa membunuh manusia dalam waktu singkat. Kemarin pak camat memberi inpo, kalau sekarang Panjenengan semua tidak boleh keluar daerah, dan harus memakai masker kalau keluar rumah”. 
Warga makin bingung dengan apa yang dikatakan pak Lurah. Apalagi itu corona? Artis barukah? Kalau punya tv ya, buat nonton film Rhoma Irama yang diputar ulang saat pemutaran film ANI. Itu yang punya tv. Yang tidak punya ya hanya plonga-plongo sambil manggut-manggut tanda tak paham.
Selesai pak Lurah memberi informasi, warga segera kembali ke rumahnya, dan mulai membuat masker ala kadarnya. Masker yang dibuat dari sobekan baju bekas, sapu tangan, bekas sarung sobek, atau lainnya. 
Tiap rumah mulai sibuk mencari ember bekas, yang dilobangi dan disumpal layaknya bak padasan, tempat wudhu. Saling menjauh saat berdekatan, saling mencurigai, bahkan mulai menggunjingkan siapapun yang keluar daerah karena harus mencari nafkah. Lama kelamaan desa itu hampir tanpa suara.
___
Sumi yang biasanya setiap pagi bolak-balik mengambil air di sungai belakang rumah Yu Nah, kini tidak sesering dulu. Paling hanya 2-3 kali saja. Kata Yu Nah, dia pernah mendapati Sumi terlihat muntah-muntah di sungai. Saat ditanya, katanya masuk angin karena belum makan. Tapi masak sih, belum makan muntahnya begitu? Pikir Yu Nah. 
Sore itu Yu Nah merasa penasaran dengan aktivitas Sumi dan Mang Karto yang tak pernah keluar rumah. Mengendap-endap perlahan di belakang rumah Sumi, Yu Nah mendengar suara tangisan lirih tepat di kamar paling belakang. Jelas itu tangisan wanita, sementara wanita di rumah itu hanya Sumi. Memang ada yang lain? Terus mengapa Sumi menangis seakan dia merasakan kepedihan batin teramat sangat, melebihi tangisan kelaparan.
Yu Nah tidak berani bertanya apapun. Dia ingin segera melaporkan apa yang dia dengar pada Yu Kasni, tetangga sebelah rumahnya. Malang tak dapat ditolak, saat balik badan, justru Yu Nah berpapasan dengan Mang karto. Tapi ada yang aneh dengan Mang Karto, Dia hanya diam sambil senyum-senyum tanpa kata saat disapa. Apakah Mang Karto  sekarang gila?
Yu Nah segera melaporkan peristiwa itu pada pak RT yang tak lain adalah suaminya.  Pak RT pun tidak ingin disebut lelet dalam bekerja, dia segera melaporkan peristiwa itu pada pak Lurah. Laporan diterima dan pak RT disuruh pulang kembali.
Malam harinya terdengar beberapa warga yang dipimpin langsung pak RT, tampak membersamai beberapa warga untuk melakukan sidak ke TKP yang tak lain dan tak bukan ke rumah Mang Karto. Bersama kerumunan itu ibu-ibu menggosip di belkang bapak-bapak. Bisik-bisik tetangga yang makin digosok makin sip.
Sumi dihamili Mang Karto, yang notabenenya adalah kaka kandungnya sendiri. Sumi menangis karena malu dihamili kakaknya sendiri, juga karena kelaparan. Biasa orang hamil selalu lapar, sementara yang dimakan tidak ada. Mang Karto jadi gila Dan masih banyak bahan pergosipan lain yang sedap dimasa pandemi yang miskin hiburan. 
___
“Mang Karto, buka pintunya, buka pezinah”! suara amukan warga yang seakan yakin dengan hipotesisnya.
Beberapa kali ketokan warga tak memberikan reaksi apapun atau gerakan daun pintu maupun daun jendela. Entah inisiatif siapa, tiba-tiba ada salah satu warga menendang daun pintu yang sebenarnya sekali dorong pasti sudah terbuka. Tampak daun pintu tak bisa terbuka sempurna. Beberapa warga masuk ke rumah dan mendapati tubuh Sumi terbujur lemas bersandar di daun pintu. Tampak aliran darah segar dibalik kedua kaki Sumi.
Sumi Keguguran !
Saat Sumi ditemukan terduduk lemas kehabisan darah, terlihat Mang Karto duduk memunggungi warga, seakan tak terjadi apa-apa. Mang karto benar-benar hilang ingatan. Warga yang seharusnya segera menangani Sumi, malah berlari keluar dan menyampaikan berita itu pada Kyai Mustofa yang tak jauh dari rumah Mang Karto. Bu Nyai dan beberapa santri segera berlarian berbeda arah dengan warga yang baru saja ke rumah Sumi.
Bu Nyai segera mengambil bayi yang telah keluar dari Rahim Sumi. Pak Kyai tampak datang dengan pak lurah dan satu polisi. Hasil penyidikan menyimpulkan Sumi keguguran bukan karena kekerasan, tetapi Sumi kurang gizi, sehingga janinnya tak bisa dipertahankan. 
Usai pemakaman, Mang Karto dibawa ke pusat rehabilitasi. Sementara sumi dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan pasca keguguran. Sumi harus dirawat cukup lama, karena hasil pemeriksaan menunjukkan Sumi terpapar Corona karena tertular Mang Karto, yang beberapa waktu yang lalu sempat mengadu nasib ke kota untuk menyambung hidup mereka sebelum akhirnya gila. 
Saat pulang, Mang Karto bersama temannya yang akhirnya menikah dengan Sumi. Sumi mau saja dinikahi, karena menyelamatkan nasibnya yang disebut perawan tua. Sementara Mang Karto menyetujui, karena lelaki itu menjanjikan akan menanggung biaya hidup mereka berdua. Pernikahan itu dengan syarat tanpa diketahui siapapun kecuali, Sumi, Mang Karto, dan pak Kyai Mustofa yang menikahkan siri tentunya. Alih-alih dihidupi, setelah seminggu menikah dengan mas kawin uang 500 ribu, lelaki itu pergi tanpa kembali lagi dan meninggalkan kehamilan Sumi serta kesedihan yang mendalam bagi Mang Karto.
Desa Tambaksari di LOCK DOWN.

Uus Abdullah


Related

sastra 6672251768208553164

Posting Komentar

emo-but-icon

follow us !

Trending

item