LOLONGAN BANGKUNG

LOLONGAN BANGKUNG 
Karya Uus Abdullah

Gending gending Slendro 
Menduduki tetembangan kutukan malam pungkasan 
Peniti menari menggapai notasi 
Pada siapa sekar ini memiliki arti 

Pedagang sayur membenahi susur 
Pedagang makanan menjual cucur 
Menyeka peluh menghisap nasib 
Sekadar bisa makan mengganjal ulu hati 

Seribu dua ribu jarang melintas 
Penawaran tak manusiawi memaksa menurunkan harga diri 
Receh menggunung simbol apresiasi 
Berbungkus peluh seharian membumi

Wajah wajah tegang menatap nasi sisa 
Yang terlewatkan dari sosok tak bernurani 
Entah apa yang mereka ramalkan 
Menginjak kaki sendiri malah tertawa saat bernanah

Togog tertawa tak mampu menengok 
Togog tersenyum sambil menjentik 
Kibas pesinden bersangul cemara dekil 
Dia lupa canang sari pada Hyang Widhi
Pun saat Bhuana alit merangkak beringsut meninggalkan masa

Pengembalian pinjaman nafas berat 
Sebelum Sang Atma gentayangan menggapai hutang hutang dosa 
Kama Bang Kama Putih hanyalah cerita 
Berbaur sia pekuburan berasap anyir

Gending pelog slendo makin meninggi 
Seiring jeritan Aji Wegig terus menerus mengangkasa 
Lontar penawar pun enggan menyapa 
pada lolongan bangkung di tengah malam buta


Related

sastra 5527568037688593640

Posting Komentar

emo-but-icon

follow us !

Trending

item